Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Oktober 2015

Bara, Sang Penakluk Jalanan



Oleh: Susana Febryanty

            Langit memancarkan sinar keemasan menyentuh lembut kulit para muda berseragam yang hendak berangkat ke sekolah. Sementara itu, di sebuah rumah yang bergaya klasik tampak seorang pemuda masih terlelap. Merdunya kicauan burung serta suara kendaraan yang mulai memenuhi jalanan seolah tak mampu menyadarkan Bara dari mimpinya.
            Tiba-tiba seorang perempuan berusia dua puluh tahunan masuk ke dalam kamar Bara. Dengan cepat tangan gadis itu bergerak membuka tirai jendela di depan ranjang. Sinar mentari segera memenuhi ruangan itu. Kehangatan sinar menembus mata sang pemuda. Matanya berkedip karena silau. Dengan segera ia membalikkan tubuh menjauhi sinar lalu meneruskan tidurnya.
            Tak mendapatkan tanggapan dari sang adik, gadis itu pun segera mendekati ranjang Bara. Dengan keras dia goncang-goncangkan tubuh pemuda itu sambil berkata, “Bara, ayo bangun…! Udah jam setengah tujuh ini, nanti kamu telat ke sekolah lho. Makanya jangan keluyuran terus, biar bisa bangun pagi.”
            “Apa, jam setengah tujuh?! Serius Mbak?” Mata Bara terbelalak mendengar perkataan sang kakak. Dengan segera ia bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
            Tak lama kemudian, Sukma keluar kamar dan pergi ke ruang makan. Dia membuka tudung saji yang menutupi nasi goreng yang berada di atas meja. Tak lama kemudian datang Bara yang telah menggunakan seragam putih abu-abu. Gadis itu meletakkan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur di hadapan adiknya. Bara segera menyantap hidangan nasi goreng kesukaannya.
            “Ngomong-ngomong, Ibu mana Mbak? Kok nggak kelihatan?” tanya Bara sambil memasukkan nasi goreng ke mulutnya.
            “Ya, kemana lagi. Kamu kan tahu jam segini Ibu sudah berangkat ke pasar. Makanya jangan sibuk sendiri kenapa sih. Sekali-kali kamu perhatikan orang rumah, jangan main aja pikirannya. Kamu pasti nggak tahu kan kalau semalam Bapak pulang ke rumah? Untung saja Bapak hanya sebentar. Kalau sampai Bapak menginap dan tahu kelakuan kamu yang suka keluyuran sama teman-teman geng motormu itu, Mbak nggak tahu deh apa yang akan terjadi.”
            “Memangnya ngapain dia datang?”
            “Kamu itu gimana sih Bara, dia itu kan suami ibu kita. Itu artinya dia Bapak kita.”
            Bara tersenyum sinis mendengar ucapan sang kakak. “Aku nggak akan lupa kalau dia itu Bapak kita. Yang jadi pertanyaannya, apa dia masih anggap kita sebagai keluarganya? Kalau memang kita ini masih keluarganya, kenapa dia lebih betah tinggal sama istri mudanya itu dan hanya datang ke rumah ini semaunya saja?” katanya dengan nada suara meninggi.
            “Ya, kita mau bilang apa. Bagaimana pun kelakuannya dia itu tetap orang tua kita, Bar.”
            Mendadak selera makan Bara menghilang. Ia mennghentikan makannnya dan meletakkan sendok begitu saja di atas piring. “Aku bukan Mbak Sukma yang pasrah dengan semua keputusan Bapak. Sampai kapan pun aku setuju dengan keputusan Bapak menduakan Ibu. Udah ah, mending aku berangkat aja. Pembicaraan soal Bapak hanya bikin aku emosi saja,” kata Bara sambil bangkit dan meninggalkan meja makan.
            Baru beberapa langkah Bara berjalan, tiba-tiba Santi memanggil, “Tunggu, Bar!”
            “Ada apa lagi, Mbak?”
            “Mbak mita tolong nanti sepulang sekolah kamu jemput Ibu di pasar ya. Soalnya nanti Mbak kuliah.”
            “Iya. Aku berangkat dulu, Mbak.” Bara mengambil sebuah kunci yang tergantung di dekat pintu depan lalu pergi ke garasi untuk menghidupkan motor bebek kesayangannya. Tak berapa lama Bara berangkat menuju sekolah dengan mengendarai motor tersebut.
***
            Sesampainya di gerbang sekolah, tampak beberapa orang siswa  mempercepat langkahnya memasuki lingkungan sekolah. Bara pun mempercepat laju motornya menuju parkir motor. Di sana ia melihat beberapa orang yang cukup dikenalnya, salah satunya adalah Gilang. Dengan segera ia parkirkan motornya di samping motor Gilang.
            “Widihhh…! Nggak salah lihat kan aku nih?! Tumben nih, Bara si jagoan jalanan bisa nyampe tepat waktu pagi ini.” Bibir Gilang tersenyum lebar seolah ingin memamerkan deretan kawat giginya.
            “Yo’i Bro, kebetulan pagi ini lagi ada kakakku tersayang di rumah. Makanya nih aku bisa datang tepat waktu. Ayo kita buruan ke kelas sebelum Mr. Poltak masuk. Kamu tahu sendiri kan bagaimana galaknya guru kita yang satu itu.” Kedua sahabat itu pun meninggalkan area parkir menuju ke arah kelas.
            Tanpa disadari seorang perempuan berusia tiga puluhan telah mengamati tingkah laku  mereka semenjak tadi. Saat Bara dan Gilang berjalan di koridor sekolah tiba-tiba perempuan itu mendekati keduanya. Sang perempuan itu pun berkata, “Bara, kamu ikut Ibu ke ruang kantor guru sekarang ya.”
            “Harus sekarang ya, Bu? Sebentar lagi kan waktunya masuk kelas, Bu. Apa tidak sebaiknya saya minta ijin dengan Pak Poltak dulu, Bu?” tanya Bara.
            “Sudah itu nanti biar Ibu yang sampaikan pada Pak Poltak. Lebih baik kamu titipkan tas kamu pada Gilang lalu ikut Ibu ke ruang guru.”
            Bara menuruti perintah sang guru. Ia memberikan tas ranselnya pada Gilang lalu membuntuti Bu Ima ke ruang guru. Meski begitu segudang pertanyaan tersimpan di pikirannya. Ada apa lagi ini? Kenapa tiba-tiba Bu Ima ingin bicara sama aku sepagi ini? Pasti ada masalah serius nih…! ucap pemuda itu dalam hatinya.
            Di depan ruang guru Bara melihat pemandangan yang berbeda. Seorang gadis berkulit putih sedang duduk di kursi yang berada di depan ruang kepala sekolah. Wow, cakep banget…! Siapa ya ini cewek? Kayaknya aku belum pernah lihat dia deh. Apa mungkin dia anak baru ya?
            “Adek ini sedang menunggu Bapak Kepala Sekolah ya? Sudah ketemu sama orangnya?” tanya Bu Ima ketika melihat gadis cantik itu.
            “Sudah, Bu. Ibu saya lagi bicara sama Pak Kepala Sekolah di dalam,” jawab sang gadis pelan.
            “Ya, sudah kalau begitu. Ibu tinggal dulu, ya.” uca p Bu Ima meninggalkan sang gadis sendirian menuju ruangan BP yang berseberangan dengan ruang kepsek.
            Dengan asyiknya Bara mengamati gadis cantik itu. Sampai-sampai ia tak menyadari kalau Bu Ima telah meninggalkannya. Tiba-tiba terdengar teriakan seorang perempuan, “Ya ampun, Bara. Kok malah bengong di situ sih kamu. Ayo cepat ke sini…!”
            “Ehm, iya Bu.” Muka Bara tampak bersemu-semu merah. Perasaannya bercampur aduk antara kagum dan malu. Ia kagum mendapati keberadaan makhluk cantik itu. Di sisi lain, ia malu dimarahi oleh Bu Ima di hadapan gadis pujaannya itu. Bara mempercepat langkahnya menuju ruang BP. Belum kenalan saja sudah malu-maluin seperti ini.Semoga  peristiwa tadi nggak diingat sama cewek itu, harapnya dalam hati.
            Beberapa menit kemudian Bara kembali ke kelasnya. Tak lupa mengetuk ia mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam ruangan. “Maaf, Pak. Tadi saya dipanggil sama Bu Ima,” kata Bara memberi alasan.
            “Memang tadi Bu Ima  sempat bilang sama aku mengenai pemanggilanmu itu. Ya, sudah. Sana kau duduk ke tempatmu! ”
            Dengan segera Bara berjalan menuju kursinya yang berada di deretan belakang. Saat ia berjalan menuju kursinya ia mendapi sosok cantik yang sempat ditemuinya tadi di ruang guru. Yes…! Ternyata cewek cantik itu sekelas denganku. Itu artinya aku punya kesempatan buat mendekatinya. Tanpa sadar pemuda itu tersenyum-senyum sendiri sepanjang pelajaran.
***
            Saat istirahat, tiba-tiba Gilang menonjok lengan Bara yang tengah melamun sendirian di depan kelas. “Woiii…! Dari tadi senyum-senyum senyum sendiri aja nih, Jangan bilang kamu stres gara-gara dipanggil sama Bu Ima tadi. Ada masalah apa sampai Bu Ima panggil kamu ke kantornya?” tanya Gilang penasaran.
            “Ya, biasalah Lang aku ini murid kesayangan para guru di sekolah ini. Makanya semua tingkahku selalu di awasi mereka. Jadi Ima itu dapat laporan soal perilaku bolos yang aku lakukan. Dia juga dapat laporan soal keterlambatanku beberapa waktu terakhir ini.”           
            “Terus kamu diapain sama Bu Ima?”
            “Untungnya hanya diberi peringatan. Katanya kalau terjadi lagi orang tuaku mau dipanggil. ngomong-ngomong, itu cewek anak baru ya? Siapa namanya?”
            “Oh itu, dia itu pindahan dari Jakarta. Namanya Nita. Bentar deh, jangan bilang kamu senyum-senyum itu gara-gara dia.”
            “Wajar dong kalau aku naksir sama cewek cantik kayak dia. Kalau aku suka sama kamu, baru aneh. Karena kamu udah kasih info sama aku soal cewek itu, sekarang aku mau traktir kamu di kantin.” Kedua orang sahabat itu pergi ke kantin untuk beristriahat.
            Setibanya di kantin Bara dan Gilang langsung menempati sebuah meja yang berada tak jauh dari gerobak soto Bu Minah, langganan mereka. Tanpa basa-basi Gilang memesan dua mangkok soto  dan dua es teh bagi mereka berdua. Sementara itu mata Bara menjelajah ke seluruh area kantin, mencoba menemukan sebuah sosok yang sedang menguasai pikirannya. Namun ia harus kecewa. Karena tak menemukan sosok cantik bernama Nita di antara kerumunan siswa tersebut.
            Pikiran Bara jadi tak tenang memikirkan Nita. Semangkuk soto yang merupakan hidangan favoritnya seakan tak menarik lagi. Yang ingin dilakukannya ialah segera kembali ke kelas. Setelah menyantap setengah dari isi mangkok soto Bara segera membayar makanannya dan Gilang pada Bu Minah lalu kembali ke kelas. Gilang hanya terbengong saat sahabatnya itu pergi tanpa pamit.
            Bara berjalan menuju kelas. Saat langkahnya mendekati kelas ia terhenyak mendapati Nita duduk sendirian di mejanya. Mata gadis itu tak berkedip saat memandangi selembar kertas. Wajahnya tampak begitu sendu. Bara berjalan dengan sangat pelan mendekati pintu kelas. Ia tak ingin Nita terusik oleh kedatangannya.
             Pemuda itu terus mengawasi Nita dengan sangat. Bara tertegun melihat sebulir aliran bening yang menetes di pipi mulus nita.Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh keras pundaknya. “Woi..! Disini rupanya kamu, Bro! Pergi kok nggak bilang-bilang!” teriak Gilang mengejutkan Bara.
            Ternyata tak hanya Bara yang terkejut oleh suara teriakan Gilang.Teriakan itu seolah membangunkan Nita dari lamunannya. Gadis itu semakin terkejut mendapati keberadaan Bara yang mengawasinya sedari tadi. Dia kan cowok yang ketemu di ruang guru tadi pagi kan? Sejak kapan dia ada di situ? Apa dia tahu yang aku lakukan barusan? tanya Nita dalam hati. Dengan segera tangannya menghapus air mata yang mebasahi pipi.
            Mendapati perubahan sikap Nita, Bara jadi salah tingkah. Ia berusaha bersikap seolah tak ada masalah meski tetap saja tampak kikuk. Untunglah tak lama kemudian bel sekolah kembali berbunyi. Pemuda itu dengan segera mengajak Gilang masuk ke dalam ruang kelas.
             Saat berjalan menuju mejanya Bara mencoba melirik ke arah nita. Ia mendapati gadis itu memandangi foto seorang lelaki yang sebaya dengan ayahnya. Pikiran Bara diliputi oleh rasa penasaran. Siapa sebenarnya laki-laki dalam foto itu? Lalu, kenapa foto itu membuat Nita menangis? pikir Bara.
            Bara menyimpan sendiri rasa penasarannya. Saat ini ia tak ingin membaginya dengan siapa pun termasuk dengan Gilang. Meski begitu ia berusaha untuk menyisihkan sejenak rasa pemasarannya itu lalu kembali fokus pada pelajaran. Bel sekolah berbunyi sebagai tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar di sekolah itu. Semua siswa berhambuaran keluar kelas.
            Sasempainya di depan kelas, seorang siswa mendekati Bara dan menyampaikan pesan dari Bu Ima. Dengan segera Bara menemui sang guru BP di ruangannya. Di ruangan tersebut tampak beberapa orang siswa telah duduk menunggu mendengarkan Bu Ima. Bara pun bergabung dan duduk pada bangku kosong yang ada di situ. Rupanya kedatangan mereka di situ untuk membantu Bu Ima mensukseskan sebuah program baru yang dicanangkan oleh pihak sekolah. Tanpa terasa diskusi itu  telah berlangsung selama satu jam.
            Saat keluar dari ruang guru Bara pun teringat akan amanat kakaknya untuk menjemput sang ibu di pasar. Dengan segera ia langkahkan kaki menuju parkiran untuk mengambil motor. Ia mempercepat laju kendaraannya menuju Pasar yang berajarak sekitar 5 km dari sekolahnya. Dalam hitungan beberapa menit saja ia telah sampai di depan pasar.
            Tak lama kemudian Bara menuju toko kelontong milik sang ibu. Namun ia mendapati toko tersebut telah terkunci rapat. Ia mengambil ponsel dalam saku tas ranselnya lalu menghubungi nomer sang ibu. Handphone ibunya tak dapat dihubungi. Lalu ia bergegas pulang  ke rumah dengan motor.
            Sesampainya di area pemukimannya Bara  melihat sang ibu dari kejauhan. Ibunya sedang berdiri di depan rumah bersama seorang gadis berkulit putih. Ia mempercepat laju motornya agar segera sampai di depan rumah. Betapa terkejurtnya Bara mendapati gadis yang bersama dengan sang ibu adalah Nita. Namun belum sempat ia membuka mulutnya, gadis itu langsung berpamitan pada Ibu dan segera pergi.
            “Bara, ayo bantu Ibu bawa barang-baran ini ke dalam rumah…!” ujar Ibu pada Bara.
            “Ehm, iya Bu.” Dengan sigap diangkatnya dua kantong plastik bersar belanjaan milik sang ibu ke dalam rumah.
            Setelah membawa semua belanjaan ke dalam dapur, tak lupa Bara memasukkan motor bebeknya ke dalam garasi dan menutup pintu pagar rumah. “Tadi kok bisa Ibu sama si Nita?” tanya Bara saat duduk di meja makan.
            “Habis kamu nggak jemput Ibu di pasar. Untung saja Nita sama Eyang Puji lagi belanja ke pasar jadi Ibu bisa numpang mobil mereka. Sudah begitu Nak Nita baik mau bantu Ibu membawa belanjaan sebanyak itu. Nggak tahu deh bagaimana nasib Ibu tadi kalau nggak ada mereka tadi.”
            “Loh, memangnya Nita itu apanya Eyang Puji?” tanya Bara Peranasaran. 
            “Kamu gimana sih, Nak Nita itu kan cucunya Eyang Puji. Dulu waktu kecil kan kalian sering main  bareng. Kamu nggak lupa kan?”
            “Bukannya cucunya Eyang Puju namanya Reni ya? Lalu Nita itu cucunya Eyang dari anaknya yang mana, Bu?” tanya Bara tak jua mengerti.
            “Lah, namanya Nak Nita itu kan RenitaKusumawati.”
            “Lho, ngapain Si Nita pindah ke Semarang. Bukannya sekolah di Jakarta jauh lebih bagus ya?”
            “Memangnya kamu belum tahu ya, ayahnya Nita kan baru saja meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Itu sebabnya ibunya Nita memutuskan untuk pindah  ke Semarang. Makanya Ibu minta kamu berhentilah kebut-kebutan sama teman-teman geng motormu itu. Ibu nggak mau kamu kenapa-napa,” ucap Ibu pelan pada Bara. Tapi ia hanya terdiam tak menjawab permintaan sang Ibu.
***
            Setelah itu Bara berusaha mendekati Nita. Setiap pagi ia bangun cepat agar bisa mengajak gadis itu berangkat sekolah bersama dengan motornya. Namun Nita selalu menolak ajakan dari pemuda itu. Dia lebih memilih untuk jalan kaki daripada dibonceng Bara. Meski begitu Bara tak pernah menyerah. Ia berusaha dengan berbagai cara untuk mendekati Nita.
             Hingga suatu ketika Eyang Puji meminta tolong pada Bara untuk membantunya memperbaiki atap rumahnya yang bocor. Dengan segera ia menuju rumah Eyang Puji yang terletak di samping rumahnya. Ia dan keluarga Nita memang sudah seperti keluarga. Apalagi Eyang Puji dan mendiang eyangnya dahulu berteman baik. Eyang Puji memperlakukan Bara seperti cucunya sendiri.
            Dengan lincah kaki-kaki Bara menaiki tangga yang mengarah menuju atap. Sesampainya di atas ia menaiki atap secara perlahan. Diperiksanya posisi genteng-genteng tersebut kemudian dengan hati-hati ia memperbaikinya sat persatu. Setelah merampungkan pekerjaan Bara pun turun secara perlahan-lahan. Sesampainya di bawah ia mendapati Eyang Puji yang sedari tadi mengawasi dan memegang tangga yang digunakannya.
            “Gimana, Bar? Ada yang bocor?” tanya Eyang Puji saat Bara duduk di teras.
            “Kayaknya sih nggak ada Eyang. Hanya posisi gentengnya saja yang bergeser. Tadi sudah saya rapikan moga-moga nggak kebasahan lagi ya kalau hujan nanti.”
            “Syukurlah kalau begitu. Makasih ya Bara sudah mau bantuin Eyang memperbaiki atap.”
            “Iya,  sama-sama Eyang. Kalau begitu saya pulang dulu ya, Yang.”
            “Mau langsung kemana sih kamu. Udah istrahat dulu di sini Itu Nita sudah buatkan minum buat kamu. Mana minumannya, Nit?”
            Tak lama datang seorang gadis berkulit putih dari dalam rumah sambil membawa baki berisi segelas teh manis dingin. Lalu gelas tersebut diletakkannya di samping Bara. “Monggo diminum ya, Bara. Eyang mau ke dalam dulu. Biar Nita yang temani kamu ya,” kata Eyang Puji sambil mereka berduaan.
            “Nit…! Bar…!” kata mereka bersamaan. Keduanya tampak salah tingkah. Akhirnya Bara pun membuka mulutnya dan berkata, “Kamu aja duluan, Nit.”
            “Ehm, makasih ya sudah mau bantu keluargaku,” ucap Nita pelan
            “Oh, santai saja. Eyang Puji itu sudah kayak eyangku sendiri jadi nggak usah sungkan untuk minta tolong sama keluargaku. Ngomong-ngomong kenapa sih kamu kayaknya sebal sama aku dan selalu menolak tawaranku untuk pergi dan pulang sekolah bersama?”
            Nita menarik napas panjang. Dengan lirih dia berkata, “Aku nggak sebal sama kamu. Teman-teman bilang kalau kamu itu anggota geng motor. Dan aku benci sama geng motor. Gara-gara geng motor Papaku meninggal. Kebanyakan geng motor itu bertingkah seenaknya di jalan raya. Kalian kerap kebut-kebutan di jalan umum, tidak mau mematuhi peraturan berlalu lintas. Menggunakan motor tanpa helm, berboncengan lebih dari dua orang. Apa kalian tidak pernah memikirkan resikonya?”
            Bara terhenyak mendengar perkataan Nita. Semua perilakunya dalam bermotor seolah terpampang dengan jelas kini. Ia ingat betul bagaimana kelakuaannya saat bersama geng motor. Sering kali ia tak mempedulikan hak pengguna jalan yang lain. Berkebut-kebutan sesuka hati. Tak jarang ia menyisihkan helmnya saat berkedaraan. Ah, kenapa aku tak pernah memikirkan sejauh ini ya? Bisa saja perlaku kami menyebabkan korba yang takbersalah seperti papanya Nita, batin Bara berujar.
            “Aku tahu kamu sedih karena kehilangan papamu. Tapi, ijinkan aku bisa menjalin pertemanan lagi denganmu. Aku mau belajar untuk memperbaiki sikapku. Kamu mau kan memberikan kesempatan itu bagiku?” kata Bara sambil memegang lembut tangan Nita.
             “Aku mau berteman dengan kamu. Tapi aku minta, kamu harus belajar menjadi pengendara motor yang baik. Aku nggak mau temanku mengalami kejadian yang sama dengan papaku. Kalau kamu tidak bisa menjalankan itu, lebih bai kamu menjauhi aku sekarang juga. Aku nggak mau sedih untuk kedua kalinya,” kata Nita tegas.
            Bara pun tersenyum mendengar ucapan Nita. Ia mengangkat tangan kanannya dan membentuknya menjadi tanda victory. “Aku akan belajar menjadi lebih baik. Aku janji nggak akan mengecewakanmu apalagi membuatmu bersedih.”  Kedua remaja itu pun tertawa riang menyambut hari baru yang lebih baik.

Senin, 09 Februari 2015

Kasih dalam Perbedaan



Ini kisah yang terjadi sekitar dua puluh tahun yang lalu. Seorang anak yang belajar tentang sisi lain perbedaan.  Bahwa perbedaan tak seharusnya memisahkan. Perbedaan akan terasa indah dengan adanya toleransi.
            Pada suatu pagi Yanti, seorang anak perempuan berusia delapan tahun bangun dari tidurnya. Wajahnya medadak cerah mengingat hari itu adalah awal liburan sekolah. Semua sekolah serempak meliburkan muridnya karena beberapa hari lagi adalah perayaan Idul Fitri. Gadis kecil itu membayangkan berbagai kegiatan yang ingin dilakukannya seperti bermain dengan anak tetangganya, membaca komik sampai menonton film kartun sepuas hatinya.
            Yanti pun segera bangun dari tempat tidurnya. Tak lupa ia merapikan tempat tidurnya lalu mengambil handuk yang tergantung di gantungan handuk yang terletak depan kamarnya. Kakinya ia langkahkan dengan cepat menuju kamar mandi. Sebelum sempat masuk ke dalam kamar mandi terdengar suara seorang perempuan arah dapur.
            “Yanti, “ panggil suara perempuan itu keras.
            Yanti membalikkan badannya dan melihat ke arah suara yang memanggilnya. Lalu ia menjawab, “Iya Ma. Ada apa?”
            “Nanti sesudah mandi langsung sarapan ya. Setelah itu kamu bantu Mama membuat kue,” kata Mama segera.
            Wajah Yanti mendadak cemberut mendengar permintaan Sang Mama. Ya, kok disuruh bantu-bantu sih. Ini kan liburan, harusnya aku bisa santai, keluhnya dalam hati. Yanti pun protes, “Tapi Ma, ini kan hari libur…”
            Sebelum anaknya itu semakin mengeluh lebih lanjut, Mama langsung menghentikan pembicaraannya. “Sudah sana cepat kamu mandi. Selesai kamu mandi, langsung sarapan lalu bantu Mama,” perintahnya dengan tegas.
            Mendengar  perintah tegas sang mama, mau tak mau Yanti segera masuk dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Selesai mandi, gadis cilik itu segera menikmati sarapan yang telah sisiapkan sang ibu di atas meja makan. Sementara itu, tampak Mama duduk di meja makan yang sama. Bundanya itu tampak sibuk menyiapkan bahan-bahan seperti tepung, mentega telur, gula pasir dan bayak lagi untuk diolah menjadi kue-kue yang lezat.
             Sepiring nasi goreng dan telur dadar ditambah segelas susu dihabiskannya dengan lahap. Setelah menghabiskan menu sarapannya, gadis kecil itu segera membawa peralatan makannya ke tempat cuci piring yang ada di belakang ruang makan. Ia pun mencuci piring, sendok dan gelasnya sampai bersih. Meski hanya dikarunai seorang anak, keluarga kecil itu memang telah membiasakan sang anak untuk melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu kamar dan mencuci piringnya sendiri.
            “Yanti, sudah selesai kan makannya? Mari bantu Mama membuat kue,” panggil Mama saat Yanti sedang menyimpan peralatan makannya di rak piring.
            Tanpa menunggu lama Yanti menjawab, “Iya Ma. Ini lagi simpan piring dulu.”
            Yanti berjalan mendekati meja tempat ia makan tadi. Terlihat ibunya itu sedang sibuk membuat adonan kue dengan tangannya. Saat melihat anaknya, Mama menghentikan sejenak aktivitas membuat adonan kue lalu mengambil beberapa peralatan untuk membuat kue.
            “Kamu poles loyang-loyang ini dengan mentega, setelah itu lapisi dengan tepung seperti ini,” kata Mama sambil memberi contoh.
            Yanti mengambil alih loyang kue yang ada di tangan ibunya, lalu melakukan seperti instruksi yang diberikan. Dalam hitungan menit ia berhasil menyelesaikan tugasnya memberi lapisan mentega dan tepung pada beberapa loyang. Loyang-loyang kue itu segera diisi dengan adonan kue yang dicetak secara apik oleh ibunda Yanti.
            “Yanti tolong  kamu kasih kismis di tengahnya ya. Setelah itu, oles bagian tengahnya itu dengan kuning telur pakai kuas ini.” Tangan Mama mengkangat sebuah kuas kecil, ia hendak menunjukkan pada putrinya.
            Tanpa menunggu lama, Yanti mengerjakan permintaan Mama. Setelah semua adonan diberi hiasan kismis sang bunda mengangkat dan memasukkan loyang-loyang kue tersebut ke dalam oven yang berada tak jauh dari meja makan. Kemudian ia kembali mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat kue yang lain.
            Melihat kesibukan sang bunda, timbul rasa penasaran dalam hati Yanti. Gadis kecil itu pun bertanya, “Untuk apa sih Mama bikin kue sebanyak ini? Memangnya mau ada acara ya Ma?”
            Sang bunda tersenyum memandang gadis kecilnya. Katanya,” Yanti lupa ya. Kan, sebentar kan Lebaran. Itu sebabnya Mama buat banyak kue.”
            “Oh, Mama mau jual kue kering untuk Lebaran ya.”
            “Bukan untuk dijual, Sayang. Mama sengaja membuat ini semua untuk dibagikan pada tetangga kita yang berlebaran.”
            Hah, dibagi-bagi? Buat apa Ma, kan kita nggak merayakan Lebaran seperti mereka,” sahut Yanti asal. Bibirnya dimajukan beberapa senti, pikirannya tak mengerti dengan perilaku sang ibu. Mama hanya tersenyum melihat raut wajah anaknya yang cemberut,.
            Ting! Suara oven memberi tanda bahwa kue yang dipanggang telah siap diangkat. Mama segera menghentikan aktivitasnya menyiapkan bahan lalu bangkit dari tempat duduknya. Sebelum berjalan menuju oven Mama berkata, “Tetangga itu kan saudara  terdekat kita, jadi apa salahnya kalau kita berbagi sedikit yang kita punya.”
            Kemudian kue-kue yang telah diangkat Mama dari oven  diletakkan di atas meja makan yang telah diberi alas kertas koran. Ibunda Yanti lalu mengambil beberapa toples plastik dan sebuah sendok. “Nak, tolong kamu angkat kue-kue ini pakai sendok. Pelan-pelan ya, biar nggak hancur kuenya.” Meski tak jua paham dengan maksud Sang Ibunda membuat kue, Yanti menuruti semua permintaannya.
            Setelah beberapa jam mereka berhasil menyelesaikan pekerjaan membuat kue. Dengan kerja sama Mama dan Yanti menghasilkan tiga jenis kue kering yang rasanya sungguh lezat. Kue semprit, kue putri salju dan kue nastar kini telah tertata rapi dalam stoples-stopes platik yang telah disiapkan ibunda Yanti sebelumya. Gadis kecil itu tersenyum melihat kue-kue yang disisakan Sang Mama khusus baginya. Tanpa menunggu, ia segera menyembar toples kue yang diberikan dan menyantapnya dengan lahap.
                                                                        ***
            Beberapa hari kemudian, saat Yanti baru saja membuka matanya di pagi hari, tiba-tiba Sang Ibu mengetuk pintu kamarnya. “Yanti, Mama masuk ya,” katanya sambil masuk ke dalam kama.
            “Ada apa, Ma? Tumben pagi-pagi udah rapi.”
            “Begini, besok kan Lebaran. Warga kompleks kita yang Muslim akan mengadakan acara Halal Bihalal di Aula Warga, jadi Mama mau membantu masak di rumahnya Tante Kadir. Kamu dirumah aja ya, ada Papa kok. Kebetulan kantor Papa sudah libur, jadi kamu ada temannya di rumah.Mama sudah siapkan makanan untuk sarapan dan makan siang. Kamu ambil sendiri aja ya. Mama pergi dulu,” ucap Mama tanpa menunggu persetujuan putrinya itu.
            Yanti terbengong-bengong saat ditinggal sang mama. Sebenarnya ia ingin protes pada Mama. Tapi sebelum berucap, ibunya langsung keluar dari kamar. Kenapa sih, Mama mau capek-capek membantu masak? Kan itu hari raya mereka, kenapa nggak biarkan saja mereka yang mempersiapkannya sendiri? Aku kan juga pengen jalan-jalan bareng Mama dan Papa selagi libur, keluhnya  dalam hati.
            Mau tak mau, Yanti terpaksa menghabiskan waktunya hari itu di rumah. Ia memilih untuk mengurung diri di kamar. Gadis cilik itu memilih buku cerita dan komik sebagai temannya seharian. Ia hanya akan keluar kamar saar sang ayah memanggilnya untuk makan atau beberapa keperluan tertentu. Mengurung diri di kamar adalah bentuk protes anak itu pada ibunya.
                                                            ***
            Keesokan harinya, saat fajar menyingsing Yanti bangun dari kasur empuknya lalu segera membereskannya. Sambil membawa handuk ia langsung melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Selesai mandi gadis cilik itu segera bergabung dengan ayah dan ibunya yang telah menantinya di meja makan.
            “Wow, banyak makanannya. Enak-enak pula, ada rendang, ada sambal hati. Ini semua Mama yang masak?” tanya Yanti terheran-heran.
            Mama pun tersenyum memandang Yanti.  Lalu ia menjawab, “Bukan. Ada yang ngasih.”
            “Hah, dikasih? Siapa yang ngasih Ma?” tanyanya lagi. Namun sebelum ibunya menjawab terdengar suara ketukan dari pintu depan rumahnya.
            Tok, tok, tok… Terdengar pula suara seorang anak perempuan memanggil, “Permisi…!” Papa mengangkat alisnya, seolah ingin memberi tanda pada Yanti untuk membuka pintu. Anak itu segera bangkit dari duduknya lalu membukakan pintu. Tampak Anisa, anak tetangga  yang seusianya sedang membawa sesuatu di tangannya.
            “Nisa, ada apa ya?”
            Gadis kecil bernama Anisa pun menyerahkan rantang yang dibawanya  pada Yanti. Katanya, “Ini ada sedikit makanan khas Lebaran buatan Nenekku. Semoga kalian suka ya.”
            Yanti menerima rantang yang diberikan Anisa sambil berkata, “Terimakasih ya, Nis. Oh ya, selamat Idul Fitri ya.” Tangannya ia menjulurkan tangannya pada tetangganya itu. Mereka bersalaman dan senyum tersungging di wajah keduanya.
            “Oh ya, makasih ya untuk kue-kue kering. Kata Tante waktu nganter, kue-kue itu buatan Tante dan kamu ya, Yan. Aku sudah coba, rasanya enak. Soalnya Ibuku kan baru saja melahirkan, jadi nggak sempat bikin kue. Terpaksa deh, Ayah beli kue kering di toko. Untung aja Tante ngasih kue-kue itu, serasa kue buatan Ibu.”
            Yanti tersenyum mendengar pujian dari Anisa barusan. Ia tak menyangka kalau tetangganya itu bisa berbicara selancar itu padanya. Karena selama ini ia dan anak perempuan itu tak pernah berbincang, mereka hanya bertukar senyum saat berpapasan. Lagi pula ia  sangat jarang melihat Anisa bermain di luar rumah.
            “Aku balik dulu ya, nanti  malah dicari sama keluargaku.”
            “Tunggu, ini rantangnya gimana?” tanyanya sambil memegang tangan Anisa.
            “Kata Ibu ditinggal aja dulu. Biar besok aku ambil ke sini. Soalnya aku harus bantuin Ibu melayani tamu-tamu di rumah.”
            “Kalau begitu, makasih ya,” ucap Yanti sekali lagi.
            “Iya, sama-sama. Yuk, dah…”
            Yanti kembali ke ruang makan sambil membawa rantang dari Anisa. Lalu ia letakkan rantang itu di atas meja, dekat dengan ibunya. Lalu ia berkata, “Ini makanan dari keluarganya Anisa, Ma.”
            Mama langsung membuka rantang dan mengecek isi yang ada di dalamnya. Wah ada ketupat sama sayuran dan opor ayamnya, Yan. Ini kan makanan kesukaanmu. Ayo kamu makan aja dulu.”
            Yanti mengambil sebuah piring dan menyerahkan pada sang bunda. Lalu berpindahlah makanan dari rantang ke dalam piring. Tanpa menunggu lama, anak itu segera melahap ketupat opor buatan Nenek Anisa. Makanan itu pun tandas dalam waktu singkat.
            “Hmm… Masakan Neneknya Anisa memang enak.”
            Mama dan Papa tersenyum melihat tingkah putrinya itu. Sang ibu kemudian berkata, “Oh ya, Si Nisa kok nggak kamu ajak masuk tadi? Kan kasihan berdiri di luar.”
            “Dianya aja  tadi buru-buru, Ma. Katanya sudah ditunggu sama keluarganya. Dia kan harus bantuin ibunya melayani tamu. Kan, ibunya baru melahirkan.”
            “Itu salah satu alasan kenapa Mama bagi-bagi kue kering. Mama yakin ibunya Nisa nggak sempat bikin kue. Lagi pula nggak ada salahnya kan kita berbuat baik sama sesama. Apalagi mereka itu tetangga kita. Tetangga kan saudara terdekat kita, Yan,” ucapnya menjelaskan.
            “Oh, gitu ya. Aku kan, sebelumnya nggak tau alasannya. Lagi pula aku hanya ingin bisa menghabiskan waktu liburan bersama Mama dan Papa.”
            Sang ibunda tersenyum lalu kembali melanjutkan, “Mama minta maaf ya kalau liburanmu kali ini nggak sesuai dengan harapanmu. Tapi Mama hanya ingin kamu memahami ada saatnya kita bersenang-senang, ada saatnya juga kita harus peduli dan membantu orang lain.”
            Papa yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan ibu dan anak itu ikut berbicara. Katanya, “Mamamu benar, Yan. Di sekolah minggu kamu juga diajarin kan bagaimana seharusnya kita hidup. Kita seharusnya bisa memancarkan kasih kepada semua orang, termasuk juga dengan orang lain. Kita tidak boleh berhenti berbuat kasih pada siapa pun. Paham kamu kan?”
            Sambil tersenyum Yanti menjawab, “Iya, Pa.”
            “Lagi pula nggak ada salahnya berbuat baik kan. Coba kamu ingat-ingat, selama ini mana pernah kamu dan Anisa ngobrol. Setelah Mama membagi kue-kue itu, kalian bisa berbicang bahkan mungkin nanti berteman akrab. Setiap Lebaran kita juga selalu mendapat kiriman makanan dari para tetangga yang merayakan hari raya. Bahkan waktu Mama keluar kota beberapa bulan yang lalu, sementara kamu jatuh sakit kan Tante Kadir yang bantuin merawat kamu. Jadi nggak salah dong apa yang Mama buat?”
            “Maafkan Yanti ya Ma. Yanti hanya memikirkan kesenangan sendiri.” Kepalanya tertunduk. Sebuah penyesalan menumpuk di dalam dadanya kin.
            “Iya, Mama maafkan. Berarti aksi mengurung diri di kamarnya sudah selesai ya,” kata Mama menggoda putrinya itu.
            “Ah, Mama. Kok Mam bisa tahu sih? Oh, pasti Papa ya yang ngasih tahu.”
            Lalu ketiga tertawa serempak. Setelah puas tertawa, sang ayah berkata, “Nanti kamu ikut sama Papa dan Mama ke acara halal bihalal di aula warga kan? Soalnya Papa dan Mama rencananya mau sekalian silahturahmi ke rumah beberapa orang yang merayakan Lebaran. Gimana?”
            “Iya, dong. Yanti pasti ikut.”
            Lanjut Papa, “Ya, sudah kalau begitu sana kamu cuci piring bekas makanmu lalu siap-siap ya. Sekitar jam sebelas kita berangkat.”
            Yanti segera menjalankan instruksi sang ayah. Kali ini tergambar sebuah senyuman di wajahnya. Ia bangga memiliki orang tua yang sangat peduli pada sesamanya, bahkan orang yang berbeda dengan mereka sekali pun. Dalam hati ia berjanji akan belajar untuk lebih menghargai dan peduli pada orang lain.