Selasa, 26 Maret 2019

Ngakunya Sih Sahabat..! Sebuah Evaluasi Diri akan Makna Persahabatan


Saat kehidupan berjalan baik-baik saja semua orang pastinya akan dengan senang hati datang dan bergaul dengan kita. Bahkan tak sedikit yang ‘mengaku’ dirinya sebagai sahabat kita. Lalu, apa jadinya bila hidup kita dirundung persoalan, masihkah keadaan berjalan sebagaimana mestinya?

            Manusia selain sebagai makhluk individu, ia juga merupakan makhluk sosial. Maka wajarlah jika kita sebagai manusia normal membutuhkan orang lain. Itu sebabnya kita perlu melakukan interaksi dan menjalin hubungan dengan orang lain.
            Diantara berbagai hubungan antar manusia yang terjalin, pasti ada ikatan yang kemudian terpilih menjadi hubungan bernama persahabatan. Persabatan merupakan sebuah hubungan yang terjalin layaknya saudara atau keluarga meski ia tak berasal dari tetesan darah yang sama. Namun, benarkah semua yang mengaku sahabat itu benar-benar tulus adanya?




Ujian Kehidupan
            Tulisan ini saya tulisan karena terinspirasi oleh berbagai pertanyaan dan evaluasi diri yang muncul setelah mengalami persoalan yang berkaitan dengan pertemanan dan persahabatan. Semua berawal dari keadaan keadaan yang kurang mengenakkan yang saya alami setahun belakangan ini. Saat itu saya tengah menjalin pertemanan yang cukup karib dengan dua orang perempuan.
            Saya masih ingat masa-masa yang kami habiskan untuk saling berbagi cerita. Lebih tepatnya, saya lebih sering memposisikan sebagai tong sampah dengan menyediakan telinga untuk mendengarkan cerita dan keluhan-keluhan mereka. Meski tubuh terasa lelah dan penat, saya rela menyempatkan waktu khusus demi orang-orang yang katanya ‘sahabat’ tersebut. Bahkan, tak jarang hujan dan badai pun ku terjang demi menemui mereka. Semua pengorbanan yang (bagi saya saat itu) rasanya layak dilakukan demi hubungan bernama ‘persahabatan’.
            Sebuah pepatah mengatakan bahwa, “Segala sesuatu akan diuji.” Pada akhirnya saya pun membuktikan makna pepatah tersebut ketika saya harus menghadapi ujian demi ujian kehidupan. Sejujurnya, berbagai kesukaran itu membuat kaki saya gontai untuk melangkah. Saya pun seolah kehilangan arah dan tak tahu harus berbuat apa.
            Saya mencoba melihat sekeliling. Yang saya lihat dan harapkan adalah sahabat-sahabat tersebut akan mendukung saya dengan tetap berada di samping saya untuk melewati masa-masa sulit ini. Sebuah rencana pun  sempat tercetus untuk pergi berlibur dan menyepi bersama demi menemukan ‘pencerahan’. Namun ternyata H-1 di waktu yang telah ditetapkan mendadak rencana itu dibatalkan oleh salah satu dari orang yang mengaku sahabat tersebut.  Dan sahabat yang satu lagi juga ikut-ikutan membatalkan rencana kami. Alhasil, saya pun harus mengubah rencana. Dengan terpaksa saya harus berangkat dan melanjutkan rencana ‘piknik’ sendirian.
            Dengan segala daya dan upaya saya berusaha untuk menepis rasa kecewa pada kedua orang yang katanya ‘sahabat’ tersebut. Saya berusaha memaafkan dan berisikap senormal mungkin terhadap keduanya. Ajakan nongkrong bareng  masih saya terima dengan senang hati. Bahkan, saat salah seorang dari mereka meminjam sejumlah uang, saya pun tetap berusaha untuk memenuhi permintaannya.
            Namun  ternyata rasa kecewa yang sudah terlanjur ada di dada nyatanya tak mudah untuk dihilangkan. Sikap nereka malah semakin menjadi-jadi. Mereka seolah menunjukkan sikap manis hanya saat membutuhkan bantuan. Sementara itu, ketika temannya tengah dirundung kesususahan mereka seakan tak mau tahu. Saya merasa seperti dicampakkan layaknya sampah yang tak lagi punya nilai bagi mereka. Hal ini tentunya membuat saya bertanya-tanya, “Apakah masih ada persahabatan sejati di dunia ini?”

Sebuah Pelajaran 
            Pada kenyataanya, kejadian semacam itu bukan pertama kali terjadi dalam hidup saya. Beberapa kali saya harus merasakan sakitnya ditinggalkan saat hidup tengah merana. Belum lagi rasa pahit yang saya telan karena pengkhianatan dari orang-orang yang saya percayai. Namun semua itu tak lantas membuat saya harus patah arang menjalani hidup. Beberapa bulan ini pun saya mulai merenungkan makna di balik peristiwa-peristiwa menyakitkan ini.
            Seperti kata pepatah yang mengatakan, “Carilah, maka akan kau dapatkan,” saya pun akhirnya menemukan beberapa pelajaran berharga. Pertama, “Cintailah dirimu dahulu sebelum kau mencintai orang lain. Saya menyadari bahwa penyebab terjadinya semua peristiwa menyakitkan itu adalah diri saya sendiri. Keinginan untuk selalu diterima dan dicintai oleh semua orang membuat saya rela berkorban apapun demi orang lain. Padahal tak semua orang rela melakukan hal yang sama dengan apa yang saya lakukan. Bahkan tak sedikit orang yang egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa peduli dengan nasib orang lain.
            Peristiwa-peristiwa tersebut juga menyadarkan saya bahwa tenyata saya masih bodoh dalam menilai orang. Dengan mudahnya saya tertipu oleh manisnya ucapan dan sikap seseorang yang ternyata berbuat demikian hanya karena ada maunya saja. Hal ini tentunya membuat saya harus semakin berhati-hati dalam menjalin pertemanan. Karena pada akhirnya bukan jumlah teman yang terutama, tapi kualitas pertemanan yang seling mendukung dan menopanglah yang terpenting dalam hidup.
            Dan satu yang terpenting yang saya temukan dari semuanya itu ialah, “Jangan pernah berharap atau berekspektasi pada siapapun atau apapun juga. Karena pada akhirnya kau hanya akan menemukan kecewa jika kau menaruh harapan pada seseorang atau pada sesuatu. Tetapi letakkanlah seluruh harapanmu hanya pada Tuhan semata.”
            Meski berat, saya belajar untuk melepaskan dan mengikhlaskan semuanya hanya pada Sang Maha Kuasa. Salah satu langkah yang saya pilih adalah mulai menjaga jarak dan menghapuskan pertemanan di media sosial dan dunia nyata dengan mereka. Hal tersebut saya lakukan bukan atas dasar rasa benci tapi semata-mata karena saya menghargai diri saya sendiri. Dan saya bersyukur Tuhan menghadirkan orang-orang yang berenergi positif untuk menggantikan posisi mereka di keseharian saya saat ini. Semoga kita semua bisa menghargai nilai sebuah persahabatan. Karena nilai sebuah persahabatan tak semurah kepentingan dan egoisme diri kita masing-masing. (SF)
 

Jumat, 18 Januari 2019

Mengapa Harus Saya…?


Ada berbagai pertanyaan yang kerap muncul di benak kita saat menghadapi badai kehidupan. Tak jarang pula kemudian kita melakukan aksi protes pada Sang Maha Pecipta atas kesulitan yang kita hadapi. Padahal hal tersebut tak lantas membuat persoalan kita selesai, bahkan semakin merusak jiwa kita. 
            Seorang teman pernah menulis status Facebook demikian, “Kalau kita lagi susah mah setan aja ogah untuk nengok.” Saya tergelitik saat membaca status teman tersebut. Dengan segera saya pun merespon status tersebut dan memberikan komentar atas pernyataanya tersebut.
            Tak ada yang salah memang dengan pernyataan teman saya itu. Beberapa diantara kita bahkan mungkin pernah mengalami kejadian semacam itu. Orang yang tengah bermasalah akan cenderung dijauhi oleh teman atau bahkan saudara-saudaranya. Bahkan, malah  orang ada yang justru tega mempersulit keadaan orang yang tengah bermasalah lho.  Lalu, kita harus bagaimana dong…?

 
Foto dari: https://khazanah.republika.co.id/
Badai Mendera
            Beberapa waktu belakangan ini saya tengah intens berhubungan dengan seorang sahabat yang memiliki persoalan yang (bagi saya) cukup pelik. Persoalannya tersebut cukup mengguncang hidupnya. Bahkan karena permasalahan yang dialaminya tersebut harga diri dan konsep dirinya sempat terporak-porandakan. Ia bercerita tentang teman dan saudara yang seolah-olah membuangnya.
            Meski tak persis sama, namun saya pribadi pernah mengalami sakitnya terbuang dari saudara dan teman. Saat ayah meninggal, saya merasakan sakitnya dicampakkan oleh keluarga besar. Saat itu saya merasa bagaikan sampah yang tak bernilai. Ketidaktahuan saya pun mendorong saya untuk melakukan aksi protes pada Tuhan dan enggan untuk melaksanakan ibadah. Hingga satu titik saya menemukan bahwa semua aksi protes yang saya lakukan tersebut hanyalah sebuah kesia-siaan belaka. Dan pada akhirnya saya menyadari bahwa sesungguhnya hanya Tuhanlah satu-satunya sahabat terbaik dalam kehidupan ini
            Namun apakah kemudian kehidupan saya berubah menjadi sempurna…? Jawabannya adalah tidak. Hingga detik ini saya masih mengalami pergumulan demi pergumulan hidup. Bahkan masih ada harapan dan impian saya yang belum bisa saya capai. Masih hangat di ingatan saya bagaimana beratnya permasalahan demi permasalahan yang harus saya tanggung pada tahun 2018 yang lalu. Berbagai rencana yang sudah saya canangkan hancur berantakan tak berbekas sama sekali.
            Bagaimana perasaan saya saat mengalami itu semua? Jawabnya ya tentu sakit. Sama seperti kebanyakan perempuan, saya memilih untuk menangis di hadapan Sang Maha Cinta. Apa lantas persoalan saya selelsai begitu saya mengucapkan AMIN? Tentu tidak, setidaknya dengan berdoa saya bisa sedikit melegakan rasa sakit yang menghimpit dada ini.

Maksud Terindah
            Sebagai manusia akal dan pikiran kita memang sangat terbatas untuk menjangkau maksud Sang Ilahi atas kehidupan kita. Namun percayalah bahwa semua yang terjadi di dunia ini bukan karena kebetulan. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita pasti ada tujuannya. Begitu pun dengan berbaai persoalan dan permasalahan yang kita alami.
            Saya mengalami sendiri semuanya itu. Saya ingat betul bagaimana sulitnya menyelesaikan skripsi seketika sesudah ayah saya meninggal. Namun berdasarkan pengalaman tersebut kemudian saya bisa berbagi dan menjadi pembimbing (mentor) bagi beberapa adik mahasiswa yang terhambat kuliahnya karena berbagai persoalan. Apakah itu kebetulan…?
            Jika peristiwa itu hanyalah kebetulan, mengapa kejadiannya begitu pas dengan pengalaman yang pernah atau sedang alami? Masih hangat di ingatan saya di suatu siang pada tahun 2016. Saat itu saya sengaja ngongkrong di sebuah kawasan hotspot untuk kepentingan pekerjaan. Entah mengapa saya memilih sebuah kursi kosong yang berhadapan dengan seorang gadis berhijab.
            Di saat saya sedang tenggelam dalam pekerjaan, tiba-tiba perempuan di depan saya menunjukkan gelagat yang tak wajar. Sambil berbicara dengan seseorang di ponselya, perlahan-lahan mata gadis itu tampak berair. Bahkan perlahan-lahan wajahnya telah dipenuhi dengan air mata. Seketika saya panik melihat pemandangan tersebut. Saya bisa saja pura-pura tak melihat itu. Namun hati saya merasa tak tega, dengan segera saya keluarkan sebungkus tissue di dalam tas ransel dan memberikannya pada Si Gadis. Ia pun mengambil beberapa lembar tissue tersebut dan tersenyum pada saya sambil mengucapkan, “Terima kasih, Mbak.”
            Setelah berbagi tissue, kami sama sekali tak melakukan perbincangan apa pun. Sejujurnya sebenarnya saya merasa penasaran dengan permasalahan Si Gadis, tapi saya merasa tak punya hak untuk memberikan pertanyaan apa pun padanya. Saat pergi, gadis itu sempat berpamitan dan memberikan senyum simpul pada saya.
            Peristiwa-peristiwa semacam itu nyatanya sering saya temukan di antara keseharian. Ada ibu muda yang curhat mengenai kondisi perekonimian keluarganya di perjalanan bus Blok M menuju Pondok Labu, Jakarta. Pernah pula seorang ibu yang bercerita mengenai keadaan anak dan keluarganya ketika saya berada di stasiun Jatinegara, Jakarta.
            Kalau dipikir-pikir memang aneh kenapa harus saya yang harus bertemu dengan mereka? Padahal hidup saya sendiri juga tak sempurna dan masih bermasalah. Toh, saya sendiri bukan seorang konselor yang kawakan yang pandai memberikan solusi pada setiap persoalan.
            Setelah sekian lama merenungkannya, saya menemukan jawaban yang sekian lama saya cari. Bahwa ternyata semua yang terjadi dalam hidup ini diizinkan Tuhan untuk terjadi semata-mata untuk kebaikan kehidupan itu sendiri. Jika saya tidak pernah merasakan sulitnya menyelesaikan tugas akhir kuliah bagaimana mungkin saya bisa mendukung adik-adik yang memiliki permasalahan yang sama. Berbagai permasalahan yang membuat hati saya  hancur dulu perlahan-lahan membentuk hati saya untuk menjadi lebih peka melihat keresahan yang terjadi di sekitar.
            Jadi persoalan hidup tak seharusnya membuat kita hancur. Justru dengan datangnya permasalahan dalam hidup, kita menjadikan momen untuk melakukan perubahan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.  Tak mudah memang untuk melakukannya, tapi bukan berarti tak mungkin kan?
            Karena untuk berbagi dan memberikan manfaat  bagi sesama tak perlu menunggu harus menunggu hidup kita sempurna tanpa masalah. Pertanyaannya ialah, “Apakah kita mau mau menjadi pribadi yang bersinar di kegelapan atau malah justru ikut tenggelam dalam kegelapan tersebut?” Semua jawabannya ada di tangan kita. (SF)

Rabu, 16 Januari 2019

Nutrisi Jiwa dalam Sepiring Lotek


Tak semua jenis makanan baik bagi kesehatan tubuh kita. Begitu pun dengan kehidupan, kita bisa saja bertemu dengan berbagai jenis dan rupa manusia, namun tak semua orang kemudian tetap tinggal dan memberi arti bagi hidup kita. Nyatanya, seorang penjual lotek memberikan sebuah pelajaran penting bagiku.
                           
            You are what you eat. Pepatah ini menggambarkan bahwa jenis makanan yang dipilih dapat menggambarkan kepribadian dan karakter seseorang. Apakah itu sepenuhnya benar adanya? Entahlah…! Tapi setidaknya, jika kita mengkonsumsi makanan yang sehat dan higienis, maka kesehatan tubuh kita akan lebih terjaga. Dan bila tubuh kita sehat, maka bisa dipastikan aktivitas kita pun dapat dilakukan dengan lebih bahagia bukan…?
            Saat berbicara mengenai makanan khas nusantara, yang terbayang pastinya kelezatannya. Bagi yang pandai memasak pasti akan lebih suka untuk meracik sendiri berbagai bumbu dan bahan pangan. Namun bagi yang tak terlalu pandai memasak yah, harus pasrah untuk membeli atau memesan makanan. Tapi siapa sangka proses memesan atau membeli makan adanya memberikan pengalaman yang berkesan bagi beberapa orang seperti saya. Seperti apakah itu…?



Lotek Jogja

            Lotek, sebuah makanan khas nusantara yang terbuat dari racikan bumbu kacang dan berbagai jenis sayuran menjadi salah satu makanan favorit masyarakat Jogja. Anda bisa menemukan warung makan yang menjajakan makanan ini di berbagai sudut Jogja. Rasanya hampir mirip dengan saudara sepupunya gado-gado, namun agak sedikit manis.
            Setelah tinggal di Jogja selera makan saya pun mulai menyesuaikan dengan jenis makanan setempat. Meski tak terlalu menyukai rasa manis, namun pada kenyataannya beberapa jenis makanan khas Jogja pun semakin terasa nikmat untuk saya santap saat ini. Salah satunya adalah lotek.
            Tak terhitung berbagai warung makan lotek yang telah saya coba. Namun beberapa bulan belakangan ini saya tertarik untuk mencoba untuk membeli seporsi lotek di salah sah satu warung lotek yang berada si kawasan Babarsari. Tampilan warung ini sebenarnya jauh dari mewah. Dengan berbekal sebuah meja sederhana Si Ibu meletakkan berbagai peralatan ‘berperang’nya, seperti cobek, rak kaca kecil untuk meletakkan sayuran, dan beberapa buah kursi plastik untuk pelanggannya.
            Meski tampilan warung ini sangat sederhana, namun tak demikian dengan rasanya. Lotek Mandiri yang ada di kawasan Babarsari ini rasanya berbeda dengan lotek kebanyakan yang cenderung sangat manis. Rasa pada lotek ini tak terlalu dominan dan berimbang dengan rasa asin dan pedasnya, sehingga tak membuat kita menjadi eneg saat menyantapnya.


Kemurahan Hati

            Selain rasa loteknya yang nikmat ada banyak hal yang menarik dari Ibu pedangang lotek ini. Siang itu, saat saya menyinggahi warung lotek tersebut, tampak beberapa orang siswa berseragam abu-abu yang menyantap makanan di sana. Wajar saja jika mereka ada di sana, lokasi warung itu terletek tak jauh dari sebuah SMU Negeri yang berada di kawasan Babarsari. Waktunya pun bertepatan dengan jam istirahat anak sekolah.
            Tak berapa lama, dua orang siswi SMU itu mendekati Si Ibu Penjual Lotek. Mereka pun menyebutkan jumlah lotek dan minuman yang mereka pesan sebelumnya. Kemudian Ibu itu pun menyebutkan jumlah yang harus mereka bayarkan. Para siswa SMU itu pun mulai menghitung uang mereka untuk membayar. Salah satu dari mereka bahkan merogoh kantong berkali-kali, seperti mencari uang untuk menggenapi jumlah yang di sebutkan sang Ibu.
            Kebingungan anak-anak SMU tersebut pun ditangkap oleh Si Ibu Pedangang Lotek. Ia segera mengambil uang dari anak-ak tersebut sambil berkata, “Sudah segini aja, nggak papa.” Para siswa itu pun tersenyum gembira. “Terima kasih, Bu” kata mereka sambil meninggalkan tempat itu.
            Sepeninggal para siswa SMU, Si Ibu kembali melanjutkan pekerjaannya meracik lotek. Sambil menggerus bumbu kacang Si Ibu pun berkata, “Itu tadi anak-anak SMA situ, Mbak. Tadi uangnya kurang makanya ta’ genapkan aja. Ibu itu sering ketemu yang kayak gitu, Mbak. Pernah ada anak yang tanya, harga loteknya berapa Bu? Ya Ibu jawab saja, duitmu adanya berapa. Ibu nggak tega kalau ada anak yang lapar tapi uangnya kurang, ya ta’ kasih saja. Ibu kan juga punya anak juga, kalau anakku kayak gitu lah piye…”
            Saya terkejut dengan penuturan sang Ibu. Sejujurnya saya kagum dengan sikap Ibu Penjual Lotek tersebut. Bagi sebagian orang, Si Ibu mungkin bukan termasuk orang terpandang dan kaya. Tutur katanya pun seperti orang yang berpendidikan. Meski demikian, ia mampu untuk berbagi kasih dengan orang sekitarnya. Meski pun hanya dengan beberapa rupiah dari nilai lotek yang dijualnya.
            Seharusnya kita yang memiliki banyak kelebihan, baik harta, ilmu pengetahuan maupun pengalaman dapat berlajar dari Si Ibu Penjual Lotek tersebut. Ia yang memiliki sedikit bahkan rela memberi bagi sesamanya. Lalu kita, apakah yang sudah kita berikan bagi kehidupan ini…? (SF)

Senin, 12 November 2018

Membangun Desa untuk Kemajuan Indonesia


Oleh: Susana Febryanty

            Hidup damai dan sejahtera pastinya akan menjadi dambaan seluruh rakyat yang hidup di muka bumi ini. Berbagai program pembangunan pun dilakukan oleh pemerintah kita untuk memajukan kesejahteraan rakyatnya. Salah satunya dengan menggelontorkan dana desa untuk Pembangunan Desa Tertinggal. Bagaimanakah dampak program ini terhadap kemajuan bangsa? 

            Desa kerap kali diidentiikan dengan keterbelakangan dan ketertinggalan. Hal ini dikarenakan masih cukup banyak masyarakat desa yang hidup dalam kemiskinan dan berpendidikan rendah. Namun secara perlahan-lahan kehidupan desa yang dahulu suram kini mulai menampakkan harapan lebih cerah dan semakin berwarna.
            Perubahan dan perkembangan yang dialami oleh sejumlah desa tersebut tak terjadi begitu saja. Peran pemerintah dan sejumlah pihak turut mendorong kemajuan yang dialami oleh masyarakat desa. Seperti apakah program pembangunan desa yang mencapai perkembangan itu? Lalu, hal-hal apa saja yang masih perlu dilakukan agar perkembangan masyarakat desa bisa lebih lebih optimal lagi di kemudian hari?

Gambar dari: http://berita.baca.co.id/ 
Gerakan Membangun Desa

            Jika kita memandang perjalanan kehidupan bangsa ini maka kita akan bahwa pembangunan yang terjadi di negara ini belum dilakukan secara merata. Hal ini tampak dari ketidak merataan infrastuktur dan fasilitas yang ada di sejumlah daerah. Tampak sekali ketimpangan antara daerah perkotaan dan pedesaan.
            Berbagai fasilitas akan sangat mudah dirasakan oleh masyarakat perkotaan. Sementara di desa, masyarakatnya dengan terpakasa harus menerima segala keadaaan yang minim dengan fasilitas pendukung kehidupan. Maka tak heran jika kemudian angka kemiskinan di desa lebih tinggi dengan yang ada di kota. Akibatnya, semakin banyak orang desa yang kemudian berbondong-bondong untuk mengadu nasib ke kota besar.
            Untunglah keadaan semacam itu tak dibiarkan terus beralarut-larut. Sejak tahun 2014 Pemerintah berinisiatif untuk melakukan perubahan dengan mengadakan program Dana Desa. Pelaksanaan program Dana Desa ini berasal dari APBN yang dialokasikan secara khusus bagi pembangunan desa. Program ini dimaksudkan untuk melakukan pemerataan pembangunan di berbagai sektor  di seluruh wilayah Indonesia. Tujuan utama penggelontoran dana desa ini ialah untuk mendorong setiap desa, terutama desa yang tertinggal untuk mengoptimalkan seluruh kekuatan swadaya mereka untuk mencapai perkembangan kehidupan yang lebih sejahtera.
            Pelaksanaan program Dana Desa ini dapat berlangsung berkat kerja sama berbagai pihak. Salah satunya ialah Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Departemen Keuangan yang bertugas untuk mengelola dan mengorganisasi dana dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah secara berimbang. Dengan kewengan yang dimilikinya, keberadaan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) membantu Pemerintah Daerah meningkatkan kualitas pengelolaan keuangannya.

Berdaya Guna

            Sebuah ungkapan mengatakan bahwa, “Hasil tak pernah mengkhianati usaha.” Hal ini juga menggambarkan berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah melalui program Dana Desa ini pada akhirnya akan menghasilkan perubahan yang positif pada masyarakat yang hidup di pedesaan. Berbagai fasilitas penunjang kehidupan masyarakat telah dibangun di berbagai desa seperti jalan, jembatan, pasar, sumur, drainase/irigasi, fasilitas kesehatan, serta fasilitas pendidikan.
            Ketersediaan fasilitas dan berbagai infrastruktut nyatanya memberikan dampak yang cukup berarti bagi kehidupan masyarakat desa. Misalnya penggunaan Dana Desa untuk membangun jalan atau jembatan pada akhirnya mempermudah masyarakat untuk mangangkut hasil tani yang akan mereka jual. Keberadaan fasilitas jalan juga dapat membuka peluang usaha lain seperti pariwisata yang mungkin dapat dikembangkan oleh masyarakat desa setempat.
            Penggunaan Dana Desa secara tepat pada akhirnya akan membawa dampak bagi masyarakat desa. Hal ini tampak dari hasil riset yang di dapatkan oleh Badan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menemukan bahwa dari tahun ke tahun jumlah masyarakat miskin terutama di daerah pedesaan semakin menurun. Namun perkembangan tersebut tak lantas membuat pemerintah berpuas diri. Berbagai upaya penuntasan kemiskinan masih harus dilakukan.

            Ada berbagai aspek yang perlu diperhatikan oleh pemerintah ketika akan menggelontorkan Dana Desa yaitu antara lain:

  •       Potensi Alam

Negara ini beruntung karena dianugerahi kekayaan alam yang amat sangat besar   potensinya.Mulai dari tanah yang subur hingga kekayaan mineral alam terkandung dalam negeri ini. Alangkah sayangnya bila kekayaan alam tersebut tidak dimanfaatkan secara benar.
            Sebagai contoh pertanian. Dahulu negara kita terkenal sebagai negara agraris. Namun kini semakin banyak lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi bangunan. Alangkah baiknya bila dana desa ini bisa dipergunakan untuk mengembangkan sektor pertanian misalnya saja dengan memberikan pinjaman modal bagi kaum muda yang bersedia menjadi petani modern.


  •      Sumber Daya Manusia

Sering kali yang menjadi persoalan dari urbanisasi ialah ketidaktahuan masyarakat akan potensi daerahnya. Oleh sebab itu masyarakat terutama kaum muda desa perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan khusus untuk bisa mengembangkan berbagai potensi di daerahnya. Program Dana Desa seharusnya juga bisa dipergunakan untuk membiayai pelatihan keterampilan dan kewirausahaan tertentu. Dengan begitu, tak perlu lagi kaum muda desa jauh-jauh merantau ke kota.

  •            Kearifan Lokal

Program Dana Desa sebaiknya dapat memperhatikan persoalan kearifan lokal. Jangan program yang dibuat oleh pemerintah daerah tak sesuai dengan keadaan dan kebutuhan suatu desa. Selain itu, penggunaan Dana Desa untuk pengembangan suatu kebudayaan bukan tak mungkin dapat diarahkan sebagai potensi pariwisata yang pada akhirnya akan memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat desa setempat pula.
            Pada akhirnya, sebaik-baiknya program adalah yang bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. Oleh sebab itu, penggunaan dari Dana Desa ini haruslah dilakukan secara benar. Jadi jangan biarkan program ini berantakan hanya karena ulah tangan-tangan ‘nakal’ yang ingin menguasai untuk kepentingan dirinya sendiri.