Selasa, 04 Agustus 2015

BNI, Rumah Aman dan Nyaman Para Penabung





Oleh: Susana Febryanty



            Setiap bank menawarkan berbagai janji manis mengenai kemudahan untuk menarik perhatian calon nasabah. Sayangnya tak selalu janji tersebut berbuah manis. Tanpa perlu menawarkan janji manis, BNI terbukti berhasil merebut hati rakyat Indonesia untuk menjadi nasababahnya. Apa saja kelebihan dari BNI?

            Sebuah pepatah mengatakan bahwa, “Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya.” Pepatah tersebut seolah hendak mengajarkan pada setiap generasi untuk berjuang mencapai kesejehteraan dalam hidupnya. Tak salah jika kemudian banyak orang yang berusaha dan berkerja keras untuk mencapai kesejahteraan yang diharapkan. Tak sampai di situ saja, masyarakat kita pun berusaha untuk melakukan penghematan dan menabung dari sebagian penghasilannya demi kelangsungan hidup di masa yang akan datang.

            Saat berbicara mengenai kegiatan menabung pikiran kita pastinya akan tertuju pada lembaga keuangan bernama bank. Sederetan nama bank yang telah meramaikan kegiatan perekonomian negeri ini. Diantaranya ialah Bank Negara Indonesia (BNI) sebagai salah satu bank yang terkemuka. Apa yang membedakan BNI dengan bank-bank yang lain?

Catatan Sejarah

            Saat berbicara tentang budaya menabung di Indonesia rasanya tak lengkap jika kita tak menilik sejarah perjalanan bangsa ini. Kedatangan Belanda sebagai bangsa penjajah rupanya menjadi awal perkenalan rakyat kita dengan dunia perbankan dan budaya menabung. Pada tanggal 24 Januari 1828 untuk pertama kalinya Pemerintah Hindia Belanda mendirikan sebuah bank bernama Nederlanshe De Javashe Bank yang tak lama kemudian diikuti oleh pendirian beberapa bank lainnya. Tujuan dari pendirian bank tersebut antara lain untuk memepermudah kepentingan pemerintah Hindia Belanda sebagai pemegang monopoli dalam proses jual beli hasil bumi dari dalam ke luar negeri.

            Lepas dari kaum penjajah, tepat di tanggal 1946 pemerintah Indonesia mendirikan Bank Negara Indonesia. Tujuan pendirian BNI pada masa itu ialah sebagai Bank Sentral yang bertanggung jawab menerbitkan dan mengelola mata uang RI. Kemudia di tahun 1955 peran BNI beralih menjadi bank pembangunan serta bank devisa. Bersama dengan peralihan perannya itu, maka status BNI pun berubah menjadi bank umum hingga sekarang.

            Bersama dengan bergulirnyawaktu berbagai catatan prestasi telah berhasil ditorehkan oleh BNI. Namun diantara banyaknya prestasi yang telah dibuat, kemampuan BNI untuk mempertahankan eksistensinya di tengah persaingan ketat lembaga perbankan selama puluhan tahun tahun patut diacungi jempol. Padahal seperti yang kita ketahui telah banyak bank yang gulung tikar karena tak mampu bertahan menghadapi krisis ekonomi yang melanda negeri ini.        Selain itu, kehandalan BNI sebagai bank terkemuka di Indonesia rupanya mampu menarik mata internasional.Pada tahun 2014 PT. Bank Negara Indonesia (Persero) mendapatkan penghargaan sebagai bagian dari Asia-Pasific Country Transaction Bank Awards. Penghargaan tersebut diberikan pada BNI karena bank ini dianggap yang terbaik di Indonesia sebagai penyedia solusi Cash Management. 

            Keberadaan  BNI tak hanya sekedar untuk meramaikan arena persaingan antar lembaga perbankan di negara kita. Ternyata kehadiran BNI mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat. Hal ini dapat terjadi karena bank ini mampu  mendukung berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan dan bukan hanya sebagai pelaku bisnis keuangan yang sekedar mengejar jumlah nasabah maupun keuntungan rupiah semata. Berkat dukungan BNI beberapa event penting yang telah terselenggara dengan sukses. Coba tengok keberhasilan beberapa kejuaraan dan pertandingan olah raga seperti Thomas & Uber Cup di tahun 1994,  SEA Games 1998-2014, dan Kejuaraan Golf Indonesia Open yang telah mendapat dukungan dari BNI. Bank ini turut juga memberi dukungan dalam beberapa kegiatan seni dan budaya yang cukup bergengsi, diantaranya ialah Java Jazz Festival serta Tour De Singkarak.

Alami Sendiri

            Sangatlah wajar bila kita sebagai nasabah menginginkan pelayanan terbaik dari bank yang  menyimpan dan mengelola uang kita. Ketatnya persaingan antar lembaga perbankan menyebabkan banyak bank yang kemudian gencar melakukan promosi dan menjanjikan berbagai fasilitas serta kemudahan bagi para nasabahnya. Hal ini tentu saja memberikan pilihan yang semakin beragam bagi calon nasabah untuk memilih bank yang dirasa sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya masing-masing. Pada kenyataannya, memilih jenis tabungan dan bank tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada kalanya kita perlu belajar dari pengalaman diri sendiri maupun orang lain sebelum menemukan bank yang cocok dengan diri kita.

            Saya masih ingat betul bagaimana pengalaman saya bersama BNI. Bagai hubungan persaudaraan yang naik turun, asam dan manis setiap fase kehidupan saya (entah mengapa) kerap memiliki keterkaitan dengan bank yang satu ini. Fase penyesuaian saya sebagai mahasiswa perantauan di kota Jogja menjadi awal perkenalan saya dengan BNI. Pada saat itu saya dan orang orang tua yang kala itu berada di Jogja bersepakat agar saya membuka rekening tabungan  di BNI. Maka pada tahun 2001 resmilah saya menjadi nasabah Taplus BNI. 

            Berbagai kemudahan saya rasakan sebagai nasabah BNI, antara lain adalah kecepatan dalam melakukan transaks keuangi. Saya tak perlu menunggu lama datangnya jatah  kiriman uang dari orang tua. Sesaat setelah orang tua melakukan transfer pada rekening saya, tak lama kemudian sejumlah uang telah tersedia di tabungan saya. Selain itu, keberadaan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) BNI yang tersebar di berbagai sudut kota Jogja semakin mempermudah aktivitas saya sebagai mahasiswa perantauan.

            Setelah lulus dari bangku kuliah saya melanjutkan hidup saya dengan bekerja di ibukota negara Indonesia. Tak lama setelah saya bekerja di tempat itu, perusahaan tempat saya bekerja melakukan kerja sama dengan sebuah bank kompetitor BNI dan mengharuskan pada setiap karyawannya untuk membuka rekening di bank tersebut. Mau tak mau, saya pun  harus membuka rekening tabungan melalui perantaraan divisi HRD perusahaan perusahaan. Saat menerima kartu ATM saya segera mencoba mengaktifkan kartu tersebut. Namun apa yang terjadi? 

            Alangkah sungguh mengecewakannya karena kartu ATM tersebut tak dapat digunakan tanpa sebab yang jelas. Lalu saya mencoba mendatangi kantor cabang bank yang terdekat dari kantor saya. Saya kembali kecewa karena oleh kantor cabang bank tersebut saya diminta untuk mendatangi kantor bank penerbit. Untunglah pada waktu itu saya masih mempertahankan keberadaan tabungan Taplus BNI milik saya. Kalau tidak, entah bagaimana nasib saya di kota Jakarta yang individual.  

            Beberapa hari kemudian,  saya terpaksa harus menyempatkan waktu saya untuk pergi ke kantor bank penerbit yang letaknya cukup jauh dari kantor demi menyelesaikan persoalan kartu ATM. Pada akhirnya memang masalah ATM saya bisa terselesaikan, tapi sejujurnya saya sudah terlanjur kecewa dengan pelayanan bank tersebut yang menurut saya lamban dan menguras waktu serta tenaga saya di tengah aktivitas kerja yang sangat padat. Saya sangat bersyukur bahwa sepanjang saya menjadi nasabah dari BNI tak pernah terjadi persoalan rumit dengan kartu ATM. Kalau pun terjadi masalah atau  harus mengganti kartu, saya hanya pergi ke salah satu cabang BNI dan para petugas akan segera membantu saya menyelesaikan persoalan seputar kartu ATM.

            Sebuah pengalaman unik juga pernah saya alami berhubungan dengan BNI. Saat itu saya berkesempatan untuk mencetak buku tabungan Taplus BNI milik saya di kantor cabang BNI yang berada di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Rupanya pada saat itu buku tabungan saya harus diganti pada saat itu juga. Untuk kelengkapan administrasi, petugas Costumer Service meminjam KTP saya dan segera memfotokopinya. Setelah proses pergantian buku tabungan selesai, saya bergegas kembali ke kantor. 

            Setelah beberapa jam saya baru menyadari bahwa KTP saya tertinggal di BNI. Dengan segera saya pergi ke kantor BNI dan menemui sang petugas Costumer Service. Ternyata petugas tersebut telah menyadari kelalaian saya yang telah meninggalkan KTP. Petugas itu langsung mengembalikan KTP pada saya. Bagi sebagian orang mungkin hal tersebut hanyalah persoalan sepele. Namun bagi saya sikap dan perilaku sang petugas Costumer Service yang sigap menyimpan KTP tersebut menunjukan profesionalme BNI terhadap nasabahnya. Pengalaman tersebut membuat saya semakin percaya akan keamanan akan dana yang saya simpan di bank ini.

            Sikap profesionalisme yang ditunjukkan oleh para karyawan BNI mampu menjadikan setiap nasabah merasa seperti anggota keluarga bank ini. Hal ini terlihat dari keramahan yang ditunjukkan oleh setiap petugas BNI pada para nasabahnya. Tak hanya itu saja, ucapan Selamat Ulang Tahun yang dikirim  melalui pesan singkat oleh petugas BNI pastinya membuat nasabah merasa diperhatikan. Menerima bingkisan coklat dari BNI di hari Kartini  beberapa  waktu yang lalu pastinya memberi kesan yang manis bagi setiap perempuan termasuk saya terhadap bank ini. Saya berharap BNI dapat mempertahankan sikap ramah dan  perhatian pada nasabahnya. Karena  seorang nasabah tetaplah manusia, jadi perlakukanlah ia sebagai manusia. Tetaplah berjaya BNI...!

Kamis, 16 Juli 2015

Memikat Pasar Dunia dengan Jamu



<a href="http://biofarmaka.ipb.ac.id/"><img src="http://biofarmaka.ipb.ac.id/biofarmaka/2015/Logo%20Pusat%20Studi%20Biofarmaka%202015.png" alt="Dies Natalis PSB 2015" width="200" height="175" border="0" /></a>



Oleh: Susana Febryanty



Semangat back to nature sepertinya yang tengah diminati masyarakat dunia turut berimbas pada tren penggunaan obat herbal. Mampukah kita sebagai negara yang memiliki jamu sebagai warisan pengobatan herbal bersaing di pasar dunia? Apa yang dapat kita lakukan untuk menaikkan pamor pengobatan herbal Indonesia?

            Arus modernisasi yang berkembang demikian pesat pastinya memberikan kemudahan bagi manusia untuk melakukan aktivitas dan pekerjaannya. Namun di lain pihak, modernisasi juga berdampak buruk bagi lingkungan. Paparan zat-zat kimia dan polutan yang ada di sekitar kita pada akhirnya mempengaruhi kualitas kesehatan. Maka tak heran jika penyakit-penyakit berat seperti kanker bermunculan di masyarakat modern.

            Hal inilah yang kemudian mendorong beberapa orang untuk mulai hidup secara alamiah atau back to nature. Semangat ini didorong oleh kesadaran untuk mengembalikan manusia pada hakikat alamiahnya. Salah cara yang dapat dilakukan yaitu dengan mengkonsumsi makanan maupun mininum alami tanpa menambahkan zat-zat kimiawi seperti pengawet atau pewarna. Bahkan tidak sedikit pula orang yang kemudian memilih pengobatan herbal sebagai metode penyembuhan penyakit.

Potensi Berlimpah

            Sejak jaman dahulu bangsa kita telah mengenal teknik pengobatan yang diturunkan secara turun temurun. Metode pengobatan tradisional itu biasanya menggunakan bahan-bahan berupa tumbuh-tumbuhan atau bagian tubuh hewan tertentu yang didapatkan dari alam. Sekian lama, masyarakat kita telah menggunakan pengobatan berbahan alami untuk menjaga kesehatannya baik dalam rangka pencegahan penyakit, meningkatkan kesehatan, maupun penyembuhan penyakit. Bahkan tidak sedikit pula kaum wanita yang menggunakan bahan-bahan alami  sebagai kosmetik untuk kecantikan.

            Apalagi kedudukan Indonesia cukup penting dalam kaitannya dengan keanekaragaman hayati dunia. Sekitar 30.000 jenis dari 40.000 jenis tanaman obat tersebar di seluruh Indonesia. Belum lagi, beberapa jenis hewan yang bagian tubuhnya dipercaya dan digunakan sebagai bahan obat seperti sirip hiu, teripang, sarang burung walet dan banyak lagi. Bayangkan, betapa melimpahnya sumber daya alam yang kita miliki. Sayangnya, menurut Indah Yuning Prapti, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (2013, dalam http://www.beritasatu.com/kesehatan/122701-menggali-potensi-obat-tradisional-indonesia.html) baru 7000 jenis tanaman obat yang telah diidentifikasi dan digunakan untuk kepentingan medis. 

            Seandainya sumber daya alam itu dapat kita gunakan semaksimal mungkin, alangkah makmurnya bangsa ini. Sungguh amat disayangkan bila kebanyakan dari kita tidak tahu cara memanfaatkan bahan-bahan alam tersebut. Bahkan beberapa orang hanya mengambil dan menjual bahan mentah, misalnya: sirip hiu yang diseludupkan ke luar negeri. Padahal sumber daya alam itu akan memiliki nilai lebih ketika kita mampu menghasilkan produk pakai seperti obat-obat herbal.

Berbagai Hambatan

            Jika dibandingkan dengan beberapa negara di Asia seperti Tiongkok dan India, perkembangan pengobatan herbal di Indonesia cenderung lebih lambat. Pengobatan herbal ala Tiongkok maupun India telah berhasil mendunia. Padahal sebenarnya bangsa kita memiliki berbagai jenis jamu-jamuan berbahan herbal sebagai warisan turun temurun. Sayangnya bangsa ini seolah belum menyadari jamu sebagai potensi yang dapat dikembangkan lebih lanjut. 

            Selama ini masih banyak masyarakat kita yang memandang sebelah mata pada metode pengobatan tradisional. Bagi beberapa kalangan muda jamu-jamuan yang digunakan dalam pengobatan tradisional adalah metode pengobatan yang kuno dan ketinggalan zaman. Mereka lebih memilih untuk mengkonsumsi obat-obatan kimiawi ketimbang menegak jamu. Itu dikarenakan bentuk jamu yang tidak praktis, memiliki rasa yang pahit serta memiliki bau yang kurang sedap.

            Sementara itu, banyak pula kalangan medis yang meragukan khasiat dari jamu-jamuan yang ada. Bahkan tidak sedikit pula orang-orang-orang yang berkecimpung dalam dunia medis yang menolak penggunaan obat-obatan herbal dan jamu karena belum banyak penelitian mengenai zat-zat yang terkandung dalam obat-obatan herbal serta efeknya bagi tubuh. Hal tersebut yang kemudian menjadikan pengobatan herbal dengan jamu-jamuan hanya dijadikan pilihan alternatif bagi masyarakat. 

            Seharusnya kita berkaca pada negara Tiongkok yang telah berhasil memajukan pengobatan herbalnya. Pengobatan herbal tradisional Tiongkok memegang peranan yang penting untuk penyembuhan penyakit kanker pada ilmu kedokteran di negara tersebut (2012, dalam https://raisastory.wordpress.com/tag/regulasi-obat-tradisional). Hal ini membuktikan bahwa pengobatan herbal jika ditangani secara benar dan tepat dapat menjadi solusi bagi kesehatan masyarakat.

yang menyebabkan industri jamu Indonesia sulit menembus pasar internasional ialah ketatnya proteksi negara luar terhadap produk-produk makanan, minuman dan kesehatan. Jamu buatan Indonesia dianggap kurang berkualitas karena ulah nakal beberapa para produsen  jamu. Tidak sedikit pelaku industri jamu kita yang masih melakukan tidakan ilegal dengan mencampur bahan-bahan kimia ke dalam produk jamu yang dibuatnya. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan penolakan beberapa negara terhadap jamu buatan bangsa ini.








Saatnya Mendunia

            Semangat back to nature yang  sedang menjadi tren seharusnya dapat kita jadikan momen untuk mendunia lewat obat-obatan herbal Indonesia. Beberapa hal yang perlu kita perhatikan untuk mengembangkan pengobatan herbal yaitu antara lain:

  1. Regulasi dan pengawasan
            Pemerintah  telah mengatur para produsen obat herbal melalui Peraturan Menteri
            Kesehatan Republik Indonesia  Nomor 007 Tahun 2012 tentang Regitrasi Obat
            Tradisional. Peraturan tersebut dibuat untuk melindungi kepentingan konsumen obat-obat
            herbal. Selain itu, peraturan yang ada juga bertujuan untuk mengatur para produsen obat
            herbal dalam menghasilkan produk-produk yang aman dan berkualitas.

            Selain itu, pengawasan terhadap penyelenggaraan produksi jamu harus terus dilakukan oleh lembaga yang ditunjuk yaitu BPOM.  Sebagai badan
yang pengawas seharusnya BPOM dapat berperan aktif untuk terus mengotrol para pelaku            (produsen) jamu agar tetap dijalur yang benar. 

                        Jangan sampai ada produsen  “nakal” yang mencampurkan bahan kimia ke dalam
            jamu. Pemerintah melalui lembaga-lembaga yang ada hendaknya dapat
            bertindak tegas pada para produsen obat jamu yang “nakal” tersebut.  Dengan demikian,
            kepentingan konsumen dapat dilindungi.

2.      Penelitian berkelanjutan

Salah satu penyebab munculnya keraguan masyarakat terutama kalangan medis terhadap obat herbal ialah karena tak adanya bukti nyata hasil pengobatan metode herbal tersebut. Pengobatan herbal dianggap hanya  berdasarkan warisan turun temurun semata, tanpa dasar keilmuan sehingga dianggap tidak rasional. 

            Kita harus menghargai dan mengapresiasi para ilmuwan kita yang bersedia untuk melakukan penelitian tanpa henti terhadap bahan-bahan herbal yang bermanfaat bagi kesehatan. Seperti yang dilakukan oleh para peneliti di Biofarmaka IPB yang telah melakukan berbagai penelitian terhadap berbagai tanaman herbal Indonesia.  Salah satu hasil penelitian mereka menemukan ekstrak air dan etanol dari buah asam gelugur, rimpang lengkuas, dan kencur berpotensi sebagai inhibitor aktivasi lipase pankreas yang bertujuan untuk mengatasi obesitas (2010, dalam http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal/65-uji-in-vitro-ekstrak-air-dan-etanol-dari-buah-asam-gelugur-rimpang-lengkuas-dan-kencur-sebagai-inhibitor-aktivitas-lipase-pankreas).

            Oleh sebab itu, sudah sepantasnya jika semua pihak mendukung para ilmuwan tersebut. Alangkah baiknya bila pemerintah kita mulai memikirkan dana khusus untuk melakukan penelitian mengenai obat-obatan herbal dan jamu. Karena untuk mengembangkan  industri jamu dan pengobatan herbal perlu dilakukan penelitian yang berkelanjutan. Dengan penelitian secara mendalam mengenai suatu obat herbal maka dapat ketehaui zat-zat aktif yang terkandung di dalamnya. Selain itu kita juga dapat memperkirakan  efek dari sebuah herbal melalui penelitian yang dilakukan. Sehingga dapat diketahui dosis dan aturan pakai dari obat herbal yang diteliti tersebut.

3.      Hubungan diplomasi dengan pihak asing

Menurut Charles Saerang (2013, dalam http://www.neraca.co.id/industri/24527/DPR-Minta-Regulasi-Obat-Tradisional-Dikaji-Ulang) selaku Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia, produk jamu Indonesia mengalami kesulitan untuk mengekspor produknya ke sejumlah negara sejak 10 tahun yang lalu. Beberapa negara yang melarang impor jamu Indonesia antara lain negara-negara di Eropa, Arab Saudi, Taiwan, China, Hongkong serta Malaysia. Hal ini dikarenakan adanya dugaan kandungan kimia dalam jamu produk Indonesia.

            Para produsen obat herbal menantikan langkah setrategis dari pemerintah agar produk jamu nasional bisa berkembang di pasar ekspor. Alangkah baiknya jika pemerintah melalui lembaga-lembaga terkait melakukan negosiasi dengan negara-negara tersebut guna membuktikan bahwa produk-produk herbal Indonesia bebas dari zat-zat kimiawi.

4.      Hak Paten

Menurut Gita Wirjawan (2012, dalam http://pikiranrakyat.com/pendidikan/2012/05/03/188296/hak-paten--produk-dari-indonesia-sangat-minim), Menteri Perdagangan RI era Susilo Bambang Yudoyono, 
bahwa jumlah hak paten produk Indonesia tertinggal jauh dibanding hak paten yang diraih oleh negara lain seperti Cina. Hak paten ini menurut Wirjawan sangat membantu pertubuhan ekonomi bangsa dalam kaitannya pasar industri. Hak paten juga memposisikan kemajuan negara kita di antara negara-negara maju dan inovatif seperti  Cina, Jepang serta negara-negara yang ada di benua Eropa dan Amerika. 

            Sementara itu, ekononom dari Universitas Indonesia, Faisal Basri (2014, dalam http://m.tempo.co/news/2014/06/26/09588144/orang-indonesia-malas-urus-hak-paten)   berpendapat bahwa kuantitas pengajuan hak paten merupakan indikator daya saing masyarakat sebuah negara dalam menghadapi era perdagangan bebas. Semakin banyak hak paten yang dimiliki sebuah negara dalam konteks perdagangan bebas, maka makin besar potensi pendapatan yang bisa dikantongi oleh suatu negara.

            Dalam memasuki persaingan bebas sudah saatnya negara ini memperhatikan persoalan hak paten produk jamu dan obat-obatan herbal. Hak paten tentunya akan berkaitan dengan pengakuan negara dan dunia akan keaslian produk jamu lokal kita. Dengan demikian dapat dicegah kemungkinan pengakuan produk jamu kita sebagai milik bangsa lain seperti yang pernah terjadi pada batik yang diakui sebagai produk negara tetangga.

5.      Konservasi keanekaragaman hayati

Bahan-bahan yang digunakan untuk memproduksi obat-obatan herbal dan jamu berasal dari alam. Oleh karena itu, kita wajib untuk menjaga kelangsungan lingkungan alam sekitar kita. Salah satu cara ialah dengan cara konservasi keanekaragaman hayati. Memanfaatkan keanekaragaman hayati secara bijaksana merupakan bentuk dari konservasi yang dapat dilakukan. Harapannya, keanekaragaman hayati dapat  terus dinikmati oleh anak cucu kita nantinya.


DAFTAR PUSTAKA


Armenia, Resty. 2015.  Jokowi Bongkar Alasan Jamu Indonesia Sulit di Ekspor (Online).                                           Available: http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20150525133549-92-55504/jokowi-     bongkar-          alasan-jamu-indonesia-sulit-di-ekspor



Ismawantini, Dyah., dkk. 2010. Uji In Vitro Ekstrak Air dan Etanol dari Buah Asam Gelugur,  Rimpang 
                  Lengkuas,dan Kencur Sebagai Inhibitor Aktivasi Lipase Pankreas (Online). JurnalAvailable:          


Menteri Kesehatan RI. 2012. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia  Nomor 007                       
                 Tahun 2012 tentang Registrasi Obat Tradisional.

Raisa, Neila. 2012. Obat herbal, what do you think? (Online). Available: 

          https://raisastory.wordpress.com/tag/regulasi-obat-tradisional



Rikang, Raymundus. 2014. Orang Indonesia Malas Urus Hak Paten (Online). Available:                
             http://m.tempo.co/news/2014/06/26/09588144/orang-indonesia-malasurus-hak-paten


_____. 2012. Hak Paten Produk dari Indonesia  Sangat Minim (Online). Available: http://pikiranrakyat.com/pendidikan/2012/05/03/188296/hak-paten--produk-dari-indonesia-sangat-minim

_____. 2013. Menggali Potensi Obat Tradisional Indonesia (Online). Available:


_____. 2013, DPR Minta Regulasi Obat Tradisional Dikaji Ulang (Online). Available: